Jumat, 11 September 2020

"luka yang tumbuh dari harapan yang kau bunuh"

Kini gairah menulis-ku hanya tentang luka, menikmati lara menyusunnya menjadi kata-kata. karena bahagia tak lagi ku rasa, semenjak kau memutuskan pergi dengan tega. 


Kini hanya dengan mengenang saja aku bisa menikmati tawamu, dan tangis membuat luka ini semakin basah karena tetesan rindu selalu bertambah dan semakin membuncah.

Kini aku hanya bisa menempatkan diri diladang kepasrahan dan keikhlasan yang begitu lapangan, sampai kau tersadar akulah orang yang mencintaimu dengan sabar, dari awal aku rela diinjak-injak oleh luka masa lalumu itu, dengan senang hati aku meminta kepadamu untuk bisa membuatmu melupakan sakit dari masa lalumu itu. dan berharap dengan semua pengorbananku itu kau ada rasa kepadaku, tapi aku keliru tepat setalah laku karna masa lalumu sembuh kaupun seakan menjauh bahkan tanpa peduli terhadap rasa yang mulai tumbuh, meninggalkan sisa lukamu pada hatiku.

Kau yang telah menaburkan benih-benih harapan yang begitu banyaknya diladang perasaanku padamu, aku yang terlalu berharap benih itu tumbuh subur untuk bisa kunikmati setelah panen, nyatanya benih itu tak kian tumbuh bahkan tunas-tunas pun tak pernah nampak, nyatanya yang kau tabur hanya harapan semu membuat hati seakan terbelenggu dan membuat rinduku terbunuh perlahan olehmu dengan tega tanpa balas peduli.

"pagi-ku masih tentangmu"

Kiranya sudah sangat lama cerita kita telah usai, namun aku masih saja belum bisa menghikanmu dari kepalaku. ditengah sepi bayangan tentangmu selalu berhasil menghiasi sudut imaji.

andai saja dulu aku tak pernah mengenalmu mungkin hatiku tak akan di rundung pilu.
andai saja dulu aku tak menaruh harap padamu mungkin luka ini tak akan terus mengendap.
andai saja aku tidak mudah berandai-andai.

namun tak bisa disalahkan ingatan dan kenangan kadang memang menyayat dan hanya waktu lah seampuh-ampuhnya obat. sebab waktu juga yang akan membawaku ke perjalanan menuju tempat baru dan orang-orang baru, mungkin saja Cinta baru agar hatiku tak lagi dirundung pilu.

Namun, untuk sekarang ini biarlah aku merawat luka, memendam lara.sampai nantinya berganti menjadi cerita yang penuh Cinta dan luka berubah tawa juga lara menjadi bahagia.

Sebab beberapa hati perlu patah untuk mengerti bahwa Cinta itu Indah.                Tapi pagi ini aku ingin meminta maaf bahwa melupakanmu aku belum bisa, dan di hatiku masih namamu sebagai satu-satunya rasa.

"Melebur"

Bila memang hendak melapas lantas mengapa kau memberi harap yang sangat luas. Kau bilang kisah ini rumit sebab itu kau pamit, kau yang membuat ini semua menjadi rumit sebab sedari awal kau memang berencana untuk pamit.

Pembuktian seperti apa lagi yang kau butuhkan, apa ini caramu membalas rasa dan ketulusanku. dengan sengaja kau buat redup cahaya harapan, membunuh perasaanku dengan kenyataan.

Kau tak pernah membicarakan segala pucuk permasalahan, kau hanya pergi dengan meninggalkan sayatan-sayatan tajam diperasan. atau memang tak pernah ada masalah kaunya saja yang hanya berniat untuk sekedar singgah dan aku bukanlah sebenar-benarnya rumah.

kau terlalu membuat semestaku bertanya-tanya dan menerka-nerka akan sikapmu yang seenaknya saja, kau takkan pernah peduli dengan luka yang kau tinggalkan di relung kecewa, harapan ku terlalu sering teraniaya.

"Duka dibalik mata ibu"

Aku selalu ingin menjadi mata mu, melihat bahagia yang kau tatap, merasakan kesedihan yang kau ratap.

Aku tak tau ada berapa duka yang kau sembunyikan dibalik senyum itu, meski saat ragamu letih tak sedikitpun kau mengeluh, meski pikiranmu kalut senyum itu tak pernah ada surut, senyum itu tetap tersaji menghiasi hari-hari.

Berapa banyak duka yang kau sembunyikan dibalik matamu itu, ibu.

"luka yang tumbuh dari harapan yang kau bunuh"

Kini gairah menulis-ku hanya tentang luka, menikmati lara menyusunnya menjadi kata-kata. karena bahagia tak lagi ku rasa, semenjak kau memut...